Psikoterapi

Psikologi Pengampunan Menurut Model Proses Enright

Perlukah, kapan dan bagaimana orang dapat memberikan atau mendapatkan pengampunan dan apa efek dari rekonsilasi antara kedua belah pihak ?Bagaimana orang dapat pulih dari luka batin karena tindakan orang lain ?Bagaimana seorang yang terluka dapat membebaskan diri dari efek kemarahan yang dipicu oleh pelecehan emosi dan fisik ?

RE-Memberikan-pengampunan-dapat-dianalogikan-seperti-membuang-kelebihan-muatan-untuk-menyelamatkan-kapal-dari-bahaya-lebih-lanjut-300x200 Psikologi Pengampunan Menurut Model Proses Enright
Memberikan pengampunan dapat dianalogikan seperti membuang kelebihan muatan untuk menyelamatkan kapal dari bahaya lebih lanjut

Bagaimana pihak yang terluka dapat memberikan pengampunan dan bagaimana pihak yang melukai dapat meminta atau menerima pengampunan tersebut.  Bagaimana dua atau beberapa orang setelah saling mengampuni dapat membangun kembali sikap saling percaya. Artikel ini merupakan ringkasan dari teori model proses pengampunan Enright , yang dikembangkan oleh psikolog  Robert Enright, PhD dan  beberapa koleganya.

Walaupun Robert Enright, PhD adalah seorang.Katolik  taat, namun model pengampunan yang dikembangkannya lebih merupakan pendekatan psikologis dan filosofis, daripada pendekatan religious atau spiritual.  Model Enright ini mengakui perlunya setiap orang untuk memberi dan menerima pengampunan demi perkembangan spiritualnya. Sehubungan dengan itu, model Enright mendorong setiap orang untuk memanfaatkan inspirasi apapun, (spiritual atau religious) dan berbagai sumber daya untuk membantu memberikan pengampunan. Namun model ini  memberikan petunjuk bagaimana setiap orang dapat menjalani  proses psikologis  pengampunan, sesuatu yang sangat mendasar dan manusiawi. Baca juga : Kajian Ilmiah tentang Memberi Pengampunan

Lalu apa yang  dimaksudkan dengan pengampunan ?Dan apa yang bukan ?

DUMPING FUEL AND EMERGENCY LANDING ON EMIRATES A380

Robert Enright, PhD menegaskan bahwa  pengampunan pada dasarnya adalah melepaskan kebencian ,kemarahan dan keinginan balas dendam . Pihak yang terluka dianjurkan memberikan kemurahan hati, kasih sayang dan welas asih , walaupun pihak yang melukai  tidak berhak mendapatkannya. Dengan kata lain, saat seseorang mengampuni, mereka melepaskan hak untuk marah, dan memberikan anugrah kepada pihak yang sama sekali tidak berhak.  Proses pengampunan dapat menjadi sebuah proses yang panjang ,sulit dan menyakitkan, tergantung pada intensitas luka batin dan lamanya seseorang terluka.

RE-Memberikan-pengampunan-dapat-dianalogikan-seperti-membuang-kelebihan-muatan-untuk-menyelamatkan-kapal-dari-bahaya-lebih-lanjut-300x200 Psikologi Pengampunan Menurut Model Proses Enright
Melepaskan pengampunan dapat dianalogikan dengan melepaskan bahan bakar. Fasilitas ini dimiliki baik pesawat komersil maupun militer untuk mencegah ledakan saat pendaratan darurat

Robert Enright, PhD dan beberapa  koleganya menemukan beberapa hambatan utama yang umum dialami untuk memberikan pengampunan :

  1. Kesalahpahaman mengenai pengampunan : Banyak orang berpikir untuk dapat mengampuni, kita perlu melakukan sesuatu yang tidak mungkin. Ini tidak benar.
  2. Orang yang menyakiti hati tidak pernah menunjukkan rasa bersalah, atau meminta maaf.
  3. Pengampunan palsu, pengampunan setengah hati yang hanya keluar dari bibir, sebagai suatu usaha untuk mendapatkan superioritas moral terhadap pihak yang menyakiti.

Untuk dapat memberikan pengampunan, kita harus memahami bagaimana pengampunan yang sejati, dan apa yang bukan merupakan pengampunan. Pengampunan sejati tidak berarti kita harus melupakan  suatu peristiwa yang menyakitkan atau suatu luka  batin,  tidak berarti sekedar memaklumi sang pelaku dan mengapa ia menyakiti hati kita,  dan bukan juga menekan  dalam – dalam rasa marah. Pengampunan sejati tidak membutuhkan  pengakuan, permintaan maaf,  atau komitmen perubahan dari sang pelaku.

Memang jauh lebih mudah memberikan pengampunan jika sang pelaku mengakui,memohon maaf dan berjanji untuk mengubah sikapnya. Namun pihak yang terluka tidak harus berkubang dalam  kemarahan dan ketidakmampuan untuk mengampuni hanya karena tidak mendapatkan permohonan maaf atau  komitmen perubahan dari sang pelaku.

Kadang pihak yang terluka tidak dapat mengampuni untuk alasan yang kurang jelas.  Contoh  mungkin seseorang melarikan diri dari luka batin karena kebencian yang memperkuat  ketidakmampuan untuk mengampuni. Atau bisa terjadi pihak yang terluka ingin sekali memberikan pengampunan namun ada sesuatu yang  tanpa disadari menghalanginya mengampuni. Contoh seorang istri yang terluka karena suaminya, mungkin harus mengampuni ayahnya. Atau seseorang yang merasa dilukai Tuhan  mungkin perlu mengampuni orang tua atau figur lain yang melukainya. Pengampunan sejati  tidak perlu , dan kadang tidak berakhir pada rekonsilitasi.  Rekonsiliasi membutuhkan tidak hanya pengampunan dari pihak yang terluka, namun juga penerimaan  hadiah pengampunan ini dari pihak yang melukai, dan  juga membutuhkan komitmen dan kemampuan dari kedua belah pihak untuk membangun kembali rasa saling percaya.

Harus bisa dipahami jika pihak yang melukai tidak dapat dipercaya, tidak ingin atau tidak mampu mengubah sikapnya,  pihak yang terluka tidak perlu lagi percaya bahwa sang pelaku akan mengubah sikapnya menjadi lebih baik.

Model proses pengampunan Enright terdiri dari 4 fase :

Fase 1 : Pembongkaran. Pihak yang terluka mendapatkan wawasan apakah dan bagaimana suatu ketidak adilan dan luka  batin telah mengubah  atau mempengaruhi hidupnya

Fase 2 : Fase Membuat Keputusan. Pihak yang terluka memahami dasar pengampunan dan membuat komitmen untuk mengampuni.

Fase 3 : Fase Upaya Memberikan Pengampunanhttp://www.prettyhealthyme.com/fase-ketiga-dari-4-fase-model-proses-pengampunan-enright/Pihak yang terluka mendapatkan pemahaman kognitif mengenai sang pelaku (kepribadian, latar belakang, pengalaman masa lalu,  didikan, dan motivasi / ambisi) . Pemahaman kognitif ini memberikan sudut pandang yang baru mengenai sang pelaku.

Fase 4 : Fase Pendalaman. Fase dimana seseorang menemukan makna yang lebih dalam di dalam penderitaan, lebih terkoneksi dengan orang lain, merasakan penurunan efek negatif dari suatu peristiwa atau luka batin, dan kadang dapat memperbaharui tujuan hidup seseorang.

Selanjutnya :  Fase Pertama dari 4 Fase Model Proses Pengampunan Enright

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *