Gangguan Kepribadian

Mengenal ADHD

Apakah Attention Deficit Hyperactivity Disorder ?

ADHD and the Brain Dr. Gerald Chodak

Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)  adalah sebuah gangguan otak yang ditandai dengan ketidakmampuan  untuk memberi perhatian, dan / atau hiperaktivitas atau bertindak impulsif yang menghambat fungsi otak.

  1. Ketidakmampuan untuk memperhatikan. Seseorang yang sering mangkir dari tugas, kurang / tidak tekun, kesulitan berkonsentrasi, sembrono (tidak teratur). Semua masalah ini bukan karena tugas tidak dimengerti.
  2. Hiperaktivitas yang menyebabkan seseorang selalu bergerak / ( tidak pernah bisa diam), terlalu sering berbicara atau mengetuk – ngetuk sesuatu. Pada diri orang dewasa, hiperaktivitas ditandai dengan terus beraktivitas.
  3. Bertindak impulsif yang mengakibatkan seseorang bertindak tergesar – gesa tanpa berpikir, sehingga berpotensi melukai atau merugikan diri sendiri atau orang lain. Bertindak impulsif yang mengakibatkan seseorang selalu  tidak dapat menunggu untuk menikmati sesuatu.  Seseorang yang impulsive sering kali mengalami kesulitan dalam interaksi sosial dan mengambil keputusan – keputusan penting tanpa memikirkan konsekuensi tindakannya.

Apa yang terjadi dalam otak penderita ADHD ?

Idealnya aliran darah semakin deras di dalam otak, saat kita berpikir, terutama dalam  otak bagian depan (prefrontal cortex). Meningkatnya aktivitas di daerah ini membantu kita untuk fokus,menekuni suatu tugas, dan berpikir.  Dalam otak sebagian besar penderita ADHD, aliran darah justru mengalir ke bagian bawah otak , sehingga menyulitkan mereka fokus. Semakin keras usaha mereka, semakin sulit  mereka fokus.

Dalam banyak kasus , ditemukan bahwa otak ADHD memiliki korteks yang lebih kecil daripada otak yang normal.  Korteks berfungsi mengontrol pikiran dan tindakan. Bagian  korteks yang lebih kecil  dari korteks otak normal  itu terutama di otak bagian depan (frontal lobe). Bagian frontal lobe ini yang berperan penting untuk mengontrol impuls, bersosialisasi dan melakukan penilaian. Hal inilah yang mungkin menyebabkan penderita ADHD  impulsif,lepas kontrol, dan meledak – ledak.

Lapisan saraf dalam otak penderita ADHD anak – anak juga lebih kecil  dan kadang lebih tipis daripada otak non-ADHD seumurnya.

Beberapa studi juga menemukan bahwa otak penderita ADHD kekurangan neurotransmitter dopamin. Karena dopamin berperan erat dalam fungsi yang terjadi di korteks, maka kekurangan dopamin dapat mengakibatkan kesulitan melakukan fungsi kognitif seperti  berkonsentrasi dan  memusatkan perhatian.

Bagaimana mengenali tanda dan gejala ADHD ?

Seorang penderita ADHD mungkin memiliki salah satu dari 3 dari jelala tersebut, atau kombinasi dari 2 atau 3 gejala.

Gejala #1 : Ketidakmampuan untuk Memperhatikan

Beberapa tanda dari gejalan ini :

  • Sering luput dari detail, membuat kesalahan yang ceroboh dalam tugas atau aktivitas lainnya
  • Kesulitan memusatkan perhatian selama beberapa waktu baik untuk menyelesaikan sesuatu, bermain, percakapan, kuliah atau membaca sesuatu yang panjang.
  • Sering kali terkesan tidak mendengarkan orang yang berbicara langsung kepadanya.
  • Tiidak megikuti instruksi dan gagal untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, atau memenuhi deadline pekerjaan. Atau sering tidak menyelesaikan sesuatu yang telah dimulainya karena mudah hilang konsentrasi dan tertarik dengan hal – hal lain di luar seharusnya.
  • Kesulitan mengorganisasi  tugas dan kegiatan, seperti kesulitan memberikan prioritas , sering kebingungan dari mana harus memulai sesuatu, menata berkas – berkas, meja kerja yang berantakan dan pengaturan waktu yang buruk.
  • Menghindari / membenci tugas yang menuntut usaha mental yang agak lama seperti : pekerjaan rumah, mempersiapkan laporan kerja, menigisi formulir atau menyelesaikan makalah yang panjang.
  • Sering kehilangan benda termasuk alat pendukung aktivitas seperti : alat tulis, dompet, kunci , tugas , kaca mata atau HP.
  • Sering kali mudah teralihkan perhatiannya pada pikiran yang tiba – tiba muncul dan tidak terkair dengan kegiatan  atau tugas yang sedang dikerjakan.
  • Sering kali lupa dalam menyelesaikan rutinitas sehari – hari seperti : menelpon balik, atau menepati janji.

Gejala #2 : Hiperaktivitas – Bertindak impulsif

Beberapa anda dari gejala hiperaktivitas-bertindak impulsif adalah :

  • Kaki yang selalu melakukan gerakan (bahkan pada saat duduk)
  • Meninggalkan tempat duduk saat mereka diharapkan untuk tetap berada di situ.
  • Berkeliling tanpa kenal cape, sering kali alam situasi yang tidak pada tempatnya.
  • Tidak mampu untuk bermain atau melakukan hobinya dengan tenang.
  • Selalu tergesa – gesar.
  • Berbicara tanpa henti
  • Menjawab pertanyaan dengan cara menyelak, sering menyelesaikan kalimat orang lain yang terputus, menyelak bicara.
  • Kesulitan menunggu giliran melakukan sesuatu
  • Sering menginterupsi orang lain, dalam percakapan, permainan atau kegiatan lain.

Diagnosa ADHD memerlukan analisa mendalam dan hanya dapat diberikan oleh psikolog atau psikiater yang terbiasa menangani ADHD. Untuk seseorang didiagnosa menderita ADHD,  salah satu dari3 jelaganya harus bersifat kronis, atau terjadi untuk waktu yang cukup lama.

Gejala ADHD dapat  muncul mulai dari usia 3 – 6 tahun dan berkembang terus sampai dewasa. Gejala – gejala ADHD sering kali salah dimengerti sebagai masalah terkait emosi atau disiplin, atau sering juga luput dalam diri – anak – anak berperilaku baik dan tenang, sehingga gejala – gejala tersebut dibarkan berkembang sampai dewasa. Orang dewasa penderita ADHD mungkin mengalami prestasi akademik yang buruk, masalah dalam pekerjaan, atau kesulitan dalam relasi interpersonal.

Gejala – gejala ADHD dapat berubah seiring dengan waktu. Pada pasien ADHD anak – anak, gejala yang paling sering muncul adalah hiperaktivitas – bertindak impulsif.  Ketika anak mencapai usia SD, gejala – gejala tersebut makin jelas dan mengakibatkan anak kesulitan secara akademis. Pada pasien ADHD dewasa,  hiperaktivitas cenderung berkurang, gejala yang lebih seringmuncul adalah perasaan tidak bisa diam,. Namun ketidakmampuan untuk emperhatikan dan bertindak impulsif tetap ada dalam pasien ADHD dewasa.

Apa penyebab ADHD ?

Para ilmuwan masih belum menemukan penyebab ADHD. Namun, ada beberapa faktor resiko penyebab ADHD :

  • Genetik
  • Merokok, konsumsi alcohol atau obat-obatan psikotropika selama kehamilan
  • Berada dalam lingkungan yang beracun selama masa kehamilan
  • Mengalami masalah berikut selama kehamilan : malnutrisi, infeksi, merokok, konsumsi alkohol dan obat psikotropika atau berada dalam lingkungan yang beracun (misalnya Timbal)
  • Berat badan yang kurang cukup saat dilahirkan
  • Cedera otak. Cedera pada bagian depan otak (frontal lobe) dapat mengakibatkan masalah untuk menontrol impuls dan emosi.
  • Ketidakseimbangan kimia pada bagian otak

ADHD lebih sering dialami laki – laki daripada perempuan. Sebagian besar pasien ADHD perempuan  mengalami ketidakmampuan untuk memperhatikan. Beberapa kondisi lain seperti kesulitan belajar, kecemasan berlebihan (anxiety disorder), gangguan perilaku, depresi dan substance abuse, umum ditemui dalam pasien ADHD,

Bagaimana Menyembuhkan ADHD ?

Sejauh ini belum ditemukan cara menghindari atau menyembuhkan ADHD. Namun ada  pengobatan dan terapi untuk mengobati penderita ADHD supaya  mereka dapat mengelola gejala – gejala ADHD.

Cara #1 : Pengobatan dan Terapi

Walaupun  peyembuhan ADHD masih belum ditemukan, ada beberapa pengobatan yang dapat mengurangi gejala ADHD. Peengobatan  ADHD terdiri dari obat , psikoterapi, pelatihan, dan kombinasi dari beberapa hal tersebut.

Cara #2 : Obat – Obatan

Obat – obatan terbukti mengurangi hiperaktivitas dan impulsiitas pada banyak pasien dan memperbaiki kemampuan pasien untuk focus, bekerja  dan belajar. Obat = obatan juga bisa memperbaiki  koordinasi fisik.    Untuk menemukan dosis yang tepat, kadang – kadang harus melalui serangkaian tes.  Konsumsi obat – obatan  harus selalu dalam pengawasan dokter.

Stimulan. Adalah jenis obat yang umum digunakan untuk mengobati pasien ADHD. Walaupun terdengar aneh, namun stmulan dapat meningkatkan produksi dopamine dan norepinephrine yang berperan penting untuk berpikir dan memusatkan perhatian.

Konsumsi stimulan dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung, sehingga meningkatkan kecemasan. Kehati – hatian terutama ditujukan kepada pasien ADHD yang menderita hiperensi, kejang – kejang, penyakit jantung, glaucoma, penyaki liver atau ginjal dan penderita anxiety disorder.

Konsultasikan dengan dokter, jika timbul gejala di bawah ini setelah mengkonsumsi stimulan

  1. Nafsu makan menurun
  2. Gangguan tidur
  3. Munculnya erakan – gerakan atau suara – suara berulang yang timbul secara tiba – tiba);
  4. Perubahan kepribadian
  5. Menjadi lebih cemas dan iritatf
  6. Sakit perut
  7. Sakit kepala

Obat – obatan stmulan tidak selalu efektif dalam mengobati ADHD, karena sering kali lupa diminum dan banyak juga stmulan yang bersifat addiktif.

Beberapa obat stmulan adalah :

  1. Dexmethylphenidate (Focalin)
  2. Dextroamphetamine (Dexedrine)
  3. Amphetamine/Dextroamphetamine (Adderall, Adderall XR)
  4. Lisdexamfetamine (Vyvanse)
  5. Methylphenidate (ConcertaDaytrana, Metadate, Methylin, Ritalin, Quillivant XR)

Non-stmulan. Beberapa obat ADHD bersifat non-stimulan.   Walaupun obat non-stimulan bekerja lebih lambat daripada stimulan, namun terbukti memperbaiki kemampuan konsentrasi, memusatkan perhatian, dan mengurangi bertindak impulsif pada pasien ADHD. Obat non-stimulan biasanya diresepkan dokter, jika pasien mengalami efek samping dari obat stimulan, atau dikombinasi dengan obat stimulan.

Kadang kala antidepresan dikombinasikan dengan stmulan,jika pasien ADHD mengalami masalah lain seperti anxiety disorder, depresi atau mood disorder lainnya.

Beberapa obat non-stimulan adalah

Cara #3 : Terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral therapy /CBT)  adalah  psikoterapi untuk membantu pasien mengubah perilakunya. Terapi perilaku membantu mengajarkan penderita ADHD  beberapa hal praktis misalnya untuk memonitor perilakunya, memuji dirinya sendiri saat bertingkah laku baik, mengontrol kemarahan atau berpikir sebelum bertindak. Catatan  : CBT membantu pasien ADHD, sementara DBT membantu pasien Borderline Personality Disorder.

Terapis juga bisa mengajarkan kemampuan – kemampuan sosial kepada pasien ADHD anak – ank misalnya : untuk menunggu giliran, berbagi mainannya dengan anak lain, mengajarkan anak meminta bantuan, cara merespons sesuatu dengan baik. Anak juga diajarkan untuk membaca ekspresi wajah dan nada suara orang lain, supaya anak dapat memberikan respon yang tepat.

Selain CBT, teknik mengelola stress dan teknik relaksasi juga membantu  pasien ADHD, karena membantu mengelola dan mengurangi kecemasan.

Terapi perilaku dapat juga dijalani para orang tua dan anggota keluarga, supaya mereka bisa langsung mengenali perubahan perilaku pasien, dan memuji perilaku yang baik.

Cara #4 : Edukasi dan Pelatihan

Penderita ADHD (baik anak – anak maupun dewasa) memerlukan petunjuk dan pengertian dari orang – orang terdekat seperti keluarga, guru dan kolega.   Frustasi dan marah umumnya timbul dalam keluarga dengan anak-anak penderita ADHD.  Edukasi yang diberikan para professional medic dapat memberi pengertian yang benar mengenai ADHD yang benar, dan efeknya pada keluarga.

Pelatihan Keterampilan Mengasuh Anak (Parenting skills training)   mengajarkan kepada orang tua  keterampilan mengasuh yang dibutuhkan supaya orang tua dapat mendorong dan mendukung perilaku anak yang positif.  Hal ini membantu para orang tua untuk belajar memanfaatkan sistem penghargaan dan konsekuensi    (bukan stick or carrot, melainkan carrot or stick)    untuk mengubah perilaku buruk anak.    Para orang tua diajarkan untuk langsung menghargai perilaku yang baik, dan mengabaikan atau mengalihkan perilaku anak yang buruk.

Cara #5 : Teknik mengelola stress bermanfaat bagi orang tua dengan anak ADHD. Teknik ini meningkatkan kemampuan orang tua untuk mengatasi frustasi  dan merespon perilaku buruk anak dengan tenang.

Grup pendukung (Support groups) dapat membantu menguatkan keluarga dan para orang tua .

Pada penderita gangguan perilaku seperti Binge Eating Disorder atau Binge Drinking, supporting group dihadir oleh penderita perilaku tersebut. OA (Overeaters Anonymous) dan AA (Alcoholics Anonymous) membangun suasana saling menguatkan antar sesame penderita.

Beberapa tip untuk membantu pasien ADHD anak – anak

  1. Membuat jadwal  kegiatan . Jagalah agar setiap hari semua kegiatan rutin berjalan pada waktunya. Mulai dari bagun pagi  sampai tidur, termasuk waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah, bermain di luar rumah, dan kegiatan – kegiatan indoor lainnya. Tempel jadwal tersebut di tempat yang mudah terlihat seperti di kulkas . Jika ada perubahan apapun di jadwal, tandai  sedini mungkin.
  2. Atur semua barang yang biasa dipakai sehari – hari. Selalu punya tempat untuk baju kotor, baju bersih, ransel dan mainan.
  3. Gunakan agenda untuk mengorganisasi pekerjaan rumah. Tekankan pada anak untuk selalu menulis daftar tugas dan pekerjaan rumah.
  4. Biasakan bertindak jelas dan konsisten. Anak – anak penderita ADHD memerlukan peraturan yang kondisten yang dapat mereka mengerti dan taati.
  5. Berikan pujian dan penghargaan saat anak – anak menaati peraturan. Anak – anak penderita ADHD sering kali terbisa dikritik. Cari dan puji perilaku mereka yang baik.

Beberapa tip untuk membantu pasien ADHD dewasa

  1. Membuat jadwal kegiatan rutin dan non rutin
  2. Menggunakan kalender untuk penjadwalan
  3. Menggunakan alat bantu  pengingat (reminder notes)
  4. Mengalokasikan tempat khusus untuk kunci, rekening atau pekerjaan kantor.
  5. Membagi suatu tugas dalam beberapa bagian kecil yang lebih mudah diatur. Langkah  dan tugas – tugas kecil yang membuat pasien ADHD dewasa  merasa berhasil.

Dr. Daniel Amen adalah seorang dokter yang menganalisa lebih dari 10000 otak. Dr. Amen membedakan ADHD dalam 7 jenis.

ADHD memang belum dapat disembuhkan, namun dengan menjalani gaya hidup sehat, menjalankan pengobta dan terapi Cognitive Behavioural Therapy, penderita ADHD dapat hidup dan berkembang secara optimal.

Sumber :

Adults ADHD – WebMD  

10 Problems That could Mean Adult ADHD – WebMD

What is ADHD ?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *