Psikoterapi

Fase Ketiga dari 4 Fase Model Proses Pengampunan Enright

Pada fase pertama dari model proses pengampunan Enright  adalah tahap pembongkaran luka, kita belajar bagaimana suatu penghinaan dapat mengakibatkan  luka batin yang melibatkan berbagai emosi negatif . Pada  tahap kedua, kita telah mendapatkan pemahaman yang benar mengenai pengampunan untuk membantu membuat keputusan dan komitmen untuk mengampuni berdasarkan pemahaman  yang benar. Fase ketiga dari model proses pengampunan Enright  adalah upaya memberikan pengampunan.  Pada fase ketiga ini korban mengubah persepsi dan sikap terhadap si pelaku, dan perbaikan relasi dengan si pelaku mulai diupayakan.

Pengampunan bukan berarti melupakan suatu luka, pengampunan adalah  kesembuhan dari suatu ingatan akan suatu atau tumpukan luka batin. Supaya luka batin tidak menumpuk, kita perlu menyembuhkan luka batin sesegera mungkin [Baca juga : Pertolongan Pertama pada Luka Batin]

RE-Welas-asih-dan-kasih-sayang-adalah-yang-utama-dalam-kehidupan-Dalai-Lama-Quotes-5-300x170 Fase Ketiga dari 4 Fase Model Proses Pengampunan Enright
“Welas asih dan kasih sayang adalah kunci kebahagiaan hidup” Dalai Lama

Fase mengupayakan pengampunan Robert Engith ini  terdiri  dari  4 bagian :

  1. Reframing  : mencoba memandang si pelaku dengan sudut pandang yang baru dengan memposisikan diri sang korban sebagai si pelaku.  Pada fase ini, seseorang  mendapatkan pemahaman kognitif mengenai sang pelaku dan mulai melihat sang pelaku dengan sudut pandang yang baru, hal ini membawa perubahan pada perubahan positif mengenai sang pelaku, dirinya dan mengenai hubungan itu. Berbagai tindakan nyata pada fase ini umumnya diawali dengan pemahaman yang benar mengenai pelaku. Reframing ini melibatkan pemikiran ulang mengenai situasi yang menyakiti tersebut dan melihat sang pelaku dari sudut pandang yang baru, sebagai “seorang manusia, dan bukan reinkarnasi iblis”.
  2. RE-Welas-asih-dan-kasih-sayang-adalah-yang-utama-dalam-kehidupan-Dalai-Lama-Quotes-5-300x170 Fase Ketiga dari 4 Fase Model Proses Pengampunan Enright
    Ibu Teresa, salah satu teladan kita dalam hal kasih sayang dan welas asih kepada sesama

    Membangun empati terhadap pelaku Pengalaman klinis membuktikan bahwa seseorang yang dapat melihat sang pelaku dari sudut pandang yang lain, umumnya akan merasa lebih positif terhadap sang pelaku, berani dan memikul beban yang diakibatkan oleh penghinaan, dan akhirnya memberikan sang pelaku ‘ hadiah moral” dari pengampunan.  Secara psikologis, kebajikan semacam ini tidak dapat diburu – buru atau dipaksakan, dan mungkin membutuhkan waktu lama. Beberapa klien yang berjuang untuk mengampuni pelecehan yang serius menemukan bahwa mengurangi kebencian terhadap pelaku adalah titik terdekat dari kebajikan yang dapat mereka dekati. Empati adalah suatu kemampuan untuk memahami dan merasakan pengalaman orang lain tanpa mengalaminya sendiri. Empati menjembatani pemintaan maaf dan pengampunan.  Umumnya empati dalam korban muncul ketika menerima permintaan maaf dari sang pelaku. Empati memudahkan seseorang untuk menolong orang lain dan memberikan pengampunan. Ketika pelaku meminta maaf atas kesalahannya,  empati dalam diri korban dibangkitkan sehingga korban mampu mengampuni si pelaku. Namun sekali lagi, menurut Robert Enright, pengampunan sejati tidak memerlukan permintaan maaf dari sang pelaku. Mereka yang berkepribadian ekstrovert (bersifat sosial, terbuka, eskpresif dan asertif., hangat, kooperatif, tidak egois, menyenangkan, sopan ,murah hati dan fleksibel) cenderung mudah membangun empati dan mengampuni kesalahan orang lain. Mereka yang berkepribadian introvert umumnya  lebih sulit mengampuni kesalahan orang lain.

  3. Memiliki belas kasihan / membangun welas asih terhadap si pelaku. Baca juga : Bagaimana Melatih Welas Asih. Berbagai cara praktis untuk membangun welas asih dengan si pelaku :
  • Memberi perhatian lebih
  • Menerima perbedaan pendapat dengan legowo, menghindari debat kusir dan debat lain yang tidak perlu.
  • Mendengarkan (dengan seksama)
  • Membangun empati terhadap si pelaku. Berempati tidak sama dengan bersimpati. Berempati artinya berusaha dengan sadar untuk menempatkan posisinya pada posisi  si pelaku (bertukar tempat) untuk mendapatkan sudut pandang yang baru. Sering kali terjadi, dengan berempati, kita sudah menunjukkan welas asih yang tulus.
  • Menerima si pelaku apa adanya. Ini bukan berarti kita menyetujui perilaku si pelaku yang tidak sesuai dalam pandangan kita. Menerima apa adanya berarti menerimanya karena menghormati sisi kemanusiaan dan derajatnya ebagai manusia.
  1. Menerima dan menyerap rasa sakit tanpa melakukan ruminasi. Ruminasi adalah refleksi diri yang maladaptif, karena hanya menambahkan  distress emosi dan psikologis dari kejadian  buruk yang dialami. [Baca juga 7 Bahaya Ruminasi]
RE-Welas-asih-dan-kasih-sayang-adalah-yang-utama-dalam-kehidupan-Dalai-Lama-Quotes-5-300x170 Fase Ketiga dari 4 Fase Model Proses Pengampunan Enright
Marryam Hosseinzadeh mengampuni dan membebaskan pembunuh anaknya dari hukuman gantung di Iran Image Credit to CNN

 

Selanjutnya : Fase Terakhir dari 4 Fase Model Proses Pengampunan Enright

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *