Latihan Mental

Cara Melatih Welas Asih (Latihan 2)

Mungkin pelayan terlambat mengantarkan makanan kita, atau sebuah benda kesayangan dirusak oleh adik , anak atau pembantu kita, mungkin seorang pengendara motor yang ugal – ugalan mencimprat kita dengan genangan air, mungkin teman membatalkan janji bertemu atau komitmen lain  yang sudah dibuat jauh- jauh hari,  bagaimana respon kita ?

Banyak dari kita hidup melihat secara fisik, namun buta secara mental, dan ini menghabat kita mengenali berbagai kesempatan untuk berbuat kebajikan dalam hidup sehari – hari. Kita merespon tantangan kehidupan dengan sudut pandang defensive dan iritatif, tidak mampu menyadari bahwa berbagai peristiwa memberikan kita kesempatan untuk menjadi baik dan lembut hati, bukannya menjadi keras hati, pedas, menjadi  bijaksana dan bukannya menjadi sensitif.

Cara  terbaik untuk mengurangi dan menghilangkan kebutaan mental ini dan menggantikannya dengan respon welas asih secara otomatis adalah dengan melatih welas asih dalam hidup kita sehari- hari. Sebelumnya kita telah membahas Cara Melatih Welas Asih (Latihan 1), berikut ini latihan kedua untuk melatih welas asih.

Welas asih menjadi aktif dan kuat jika dipraktekkan, karena welas asih adalah salah satu  otot emosional dan spiritual. Berbagai laihan mental seperti meditasi, yoga bermain alat musik, bernyanyi adalah cara untu melatih otot emosional dan spiritual.

WA-Cara-Melatih-Welas-Asih-Latihan-1-2-300x227 Cara Melatih Welas Asih (Latihan 2)
Bagaimana respon kita melihat orang yang tertindas dan teraniaya?

Sebagaimana otot fisik yang mesti dilatih untuk menjadi gemuk dan kuat, otot emosional dan spiritual (seperti otot welas asih) pun harus dilatih.  Dengan mengarahkan perhatian dan usaha kepada welas asih, akan memudahkan kita untuk berkata – kata dan bertingkah laku yang merefleksikan kasih sayang , welas asih dan kebaikan dalam setiap perbuatan kita.

Berikut ini berbagai latihan yang dapat dilakukan tiap hari untuk melatih welas asih.

Latihan #1 : Mengajarkan / membagikan ilmu.Kita memiliki segudang talenta, keterampilan dan berbagai sumber daya.  Dengan siapa kita dapat membagikan berbagai ilmu dan keterampilan yang kita miliki ?Di mana kita dapat menemukan seseorang yang mungkin dapat sangat terbantu dengan ilmu yang kita miliki ? Welas asih tidak menumpuk apapun, tapi membagikannya dengan murah hati.

Latihan #2 : Minta orang lain untuk mengajarkan kita sesuatu. Ada banyak talenta dan keterampilan yang kita tidak miliki, namun dimiliki orang lain. Mintalah petunjuk dan dukungan orang lain untuk bidang – bidang di mana kita lemah. Orang akan merasa sangat berguna jika kita menghargai kemampuan mereka dengan meminta mereka mengajari kita.

Latihan #3 : Berikan pujian dengan tulus. Pujian dan senyuman yang dipaksakan  mudah terlihat, jadi kita tidak perlu mencobanya.  Namun, carilah kesempatan untuk menghargai dan memuji talenta, kelebihan, kemampuan, atau keterampilan seseorang. Ini akan sangat mudah dilakukan saat  kita meminta orang lain untuk membimbing kita / mengajari kita melakukan sesuatu (Latihan #2).

Latihan #4 :  Memupuk rasa ingin tahu. Ciptakan berbagai kesempatan yang membuat kita dapat  mengeksplorasi berbagai hal dan orang yang kita pandang buruk. (prasangka buruk). Baca novel dari penulis yang kita pandang rendah. Mulailah percakapan kasual dengan kolega atau teman yang memiliki iman berbeda. Biarkan diri kita mengenali dan menemukan berbagai kesamaan nilai, daripada mengandalkan prasangka lama yang buruk.

Latihan #5 : Bertukar sepatu. Mengalami apa yang orang lain alami adalah salah satu cara terbaik untuk memupuk welas asih. Tawarkan diri kita untuk membantu tugas kolega saat ia cuti sakit atau berlibur.  Jika kita biasa mengendarai mobil ke tempat kerja, ganti kebiasaan itu dengan berjalan, bersepeda, atau menggunakan alat transportasi umum.  Mengganti kebiasaan adalah salah satu cara yang sangat bagus untuk mengubah sudut pandang kita dan melihat orang lain dengan perspektif yang baru.

Latihan #6 : Jadilah saksi bisu.  Amati orang tua yang menggandeng anaknya dijalan. Biarkan hewan peliharaan menjilat tangan kita. Tutup mata dan rasakan sentuhan angin atau hujan di kulit wajah. Amati dalam diam berbagai ekspresikasih sayang yang terjadi di sekitar kita. Welas asih dan kasih sayang pada dasarnya tidak dapat dipisahkan.

Latihan #7 : Ciptakan kesunyian . Meditasi menenangkan berbagai kebisingan mental (termasuk prasangka buruk akan diri sendiri dan orang lain), prasangka yang menumpulkan kemampuan kita untuk benar – benar hadir dalam saat ini. Kehadiran sepenuhnya memampukan kita melihat dan mengenali kesamaan yang dimiliki semua manusia di muka bumi. Ketika kita mengenali interkoneksi segala sesuatu di bumi, welas asih mengalir dengan sendirinya.

Latihan #8 : Mengasihi diri sendiri. Kita tidak hanya perlu mempraktekkan welas asih kepada orang lain. Pertama – tama kita harus bisa mengasihi diri kita sendiri.  Tanyakan pada diri sendir : “Apakah kita terikat pada penyesalan masa lalu ?Apakah ada suatu perkataan atau perbuatan di masa lalu yang membuat kita malu ?Akan mnjadi pribadi seperti apa jika saya tidak memiliki penyesalan di masa lalu it ?”Setiap hari, praktekkan untuk mengampuni diri sendiri, apakah dalam kesunyian, atau dengan berkata lantang di depan kaca, untuk memupuk penerimaan diri.

Latihan #9 : Menjadi sukarelawan. Salah satu cara untuk memupuk kebaikan dan kasih sayang adalah dengan mencari kesempatan untuk berinteraksi dengan mereka yang membutuhkan. Jadilah sukarelawan di panti asuhan, panti jompo, atau tempat penampungan anak jalanan. Sediakan waktu untuk mengunjungi pasien di rumah sakit. Welas asih merespon penderitaan dengan kelembutan, dan memberikan waktu dan energinya dengan murah hati.

Latihan #10 : Refleksi segera setelah mengucapkan sesuatu yang menyakiti hati orang lain.  Mudah bagi kita untuk mengakui bahwa perkataan yang kita ucapkan telah menyakiti hati orang lain.  Segera setelah kita menyadari perkataan yang menyakiti hati orang lain, menulis email yang pedas, merespon keras kolega yang menyulitkan kita,  mengeluh kepada pelayan restoran mengenai jasa mereka yang buruk, berhentilah dan pertimbangkan posisi orang tersebut. Mungkinkah mereka mengalami hari yang buruk ?Apakah mungkin untuk mengkomunikasikan isu – isu yang menghantui pikiran kita dengan cara baik – baik , dan bukan dengan agresif ?Berhentilah sejenak dan biarkan jawaban yang welas asih muncul.

Perasaan kasihan vs Welas Asih

Mungkin ada yang berpendapat bahwa  interaksi intens dengan mereka yang menderita (Latihan #9) akan membuat kita kering secara emosional, akan melelahkan emosi dan jiwa. Ya, jika interaksi ini murni muncul dari perasaan kasihan kepada orang lain, kita akan merasa sakit dari interaksi tersebut. Namun, perasaan kasihan berbeda dengan welas asih. Perasaan kasihan menciptakan jarak, menempatkan seseorang sebagai atasan , dan yang lain sebagai bawahan. Welas asih mngakui kesamaan di antara semua manusia, hewan dan segala makhluk di muka bumi. Welas asih menghubungkan segala sesuatu  sementara perasaan kasihan memisahkan segala sesuatu.

Memupuk welas asih untuk diri sendiri dan segala sesuatu yang kita temui menciptakan berbagai kemudahan dan harmoni dalam hidup.

Ditulis ulang dari artikel yang berjudul “Daily acts of compassion” yang ditulis oleh Annika Martins, pendiri The Catalyst Sessions, program untuk membantu mentransformasi wirausaha perempuan dari pemula menjadi pemenang dalam bisnis.

WA-Cara-Melatih-Welas-Asih-Latihan-1-2-300x227 Cara Melatih Welas Asih (Latihan 2)
“In the practice of tolerance, one’s enemy is the best teacher.” Dalai Lama

Selanjutnya :  Cara Melatih Welas Asih (Latihan 3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *