Psikoterapi

6 Pilar Penopang Self-Esteem (Pilar 4)

Dalam pilar ke-tiga (bertanggung jawab) , Nathaniel Branden menjelaskan pentingnya keberanian untuk mengambil tanggung jawab atas masa depan dan kebahagiaanmu. Sebagaimawww.nathanielbranden.com/what-self-esteem-is-and-is-notna dinyatakan Lou Holtz — Life is 10 percent what happens to you and ninety percent how you respond to it.’

Namun tanggung jawab saja belum cukup untuk membentuk dan menopang self-esteem yang kuat. Pilar ke-4 (self-assertiveness / keterampilan bersikap tegas) mutlak diperlukan dalam menjalin komunikasi yang efektif di rumah, tempat kerja dan masyarakat. Setiap dari kita harus berusaha untuk diperlakukan dengan adil, dan tegak berdiri menuntut hak tanpa melanggar hak  orang lain. Ini artinya mengekspresikan keinginan, kebutuhan, pendapat dan perasaan dengan cara yang taktis, fair dan efektif.

SA-quote-paulo_coelho_never_try_to_please_everyone_if_you_do_you_will_be_respected_by_no_one-300x203 6 Pilar Penopang Self-Esteem (Pilar 4)
Jangan pernah berusaha menyenangkan setiap orang, karena jika demikian, tidak akan ada orang yang menghargaimu

Psikolog mengatakan bahwa menjadi tegas adalah sama bedanya dengan bersikap  tidak tegas (lemah, pasif, mengorbankan diri sendiri) atau agresif (berpusat pada diri, tidak toleran, bermusuhan, sikap menuntut yang tinggi hati). Beberapa orang ingin berlaku “manis” dan “tidak menimbulkan masalah”, mereka “menderita dalam diam” “memberikan pipi kanan saat pipi kiri ditampar” dan mereka berasumsi bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah situasi tersebut. Sebagian dari kita menghargai pribadi yang menyenangkan, memahami orang lain, namun saat seorang yang baik budi mengijinkan orang yang serakah, dominan untuk memanfaatkannya, pribadi yang pasif  tidak hanya mencurangi dirinya sendiri, namun juga menguatkan sikap tidak fair, perilaku egois dalam diri mereka yang agresif.

Ketegasan adalah antidot untuk ketakutan, keragu – raguan,malu – malu, pasif, dan bahkan kemarahan, dan beberapa orang memerlukan pelatihan untuk ini. Riset mengenai ketegasan menyarankan ketegasan menyangkut beberapa perilaku berikut :

  • Untuk berpendapat dan meminta bantuan dengan tetap berprinsip bahwa hak  setiap orang harus dihormati karena semua  manusia yang sama derajatnya. Untuk mengatasi ketakutan dan minder/mengecilkan kemampuan diri sendiri yang mencegahmu untuk berpendapat atau meminta bantuan.
  • Untuk menyatakan emosi – emosi negatif (keluhan, kebencian ,kritik, ketidaksetujuan, intimidasi dan kebutuhan untuk dibiarkan sendiri) dan menolak permintaan.
  • Untuk menunjukkan emosi – emosi positif (kebahagiaan, kebanggaan, menyukai seseorang, ketertarikan) dan memberikan pujian.
  • Untuk mempertanyakan sesuatu atau tradisi pada pihak yang berkuasa, bukan untuk membangkang, namun untuk memperbaiki berbagai hal.
  • Untuk memulai, mengubah dan mengakhiri percakapan dengan nyaman. Untuk bisa membagi perasaan, pendapat dan pengalaman dengan orang lain.
  • Untuk mengatasi berbagai gangguan kecil sebelum kemarahan membengkak menjadi kebencian yang kuat dan meledak.

 

Berikut ini 4 langkah yang membantumu menjadi lebih tegas dalam interaksi sehari – hari dengan orang lain :

Langkah#1 : Menyadari bahwa perubahan – perubahan diperlukan dan percayalah akan hak = hakmu

Banyak orang yang tidak bisa menolak permintaan/bantuan menyadari bahwa mereka sebetulnya dimanfaatkan / dimanipulasi orang lain. Beberapa yang lain  tidak melihat diri mereka sebagai pribadi yang tidak tegas, namun merasa depresi dan tidak terpenuhi, menderita banyak penyakit fisik, berbagai keluhan mengenai pekerjaan namun berasumsi bahwa atasan atau guru berhak untuk melakukan apapun yang mereka kehendaki. Tidak akan terjadi perubahan sampai korban menyadari hak – haknya telah dilanggar dan memutuskan untuk memperbaki situasi. Menulis agenda / diary dapat membantumu menilai apakah dirimu terintimidasi, pasif , malu atau ragu – ragu dan apakah orang lain bersikap menuntut, merongrong, kasar atau agresif.

Hampir setiap orang ingat akan situasi di mana mereka berbicara terbuka atau agresif.  Kadang kejadian ini digunakan sebagai contoh untuk menyangkal bahwa sebenarnya kita ada pribadi yang tidak tegas.  Bagaimanapun, banyak di antara kita yang bersikap lemah dalam berbagai cara, kita tidak bisa mengatakan “tidak” kepada teman yang meminta bantuan, kita tidak bisa memberikan atau menerima pujian, kita membiarkan pasangan atau anak mengontrol hidup, kita enggan berbicara di depan kelas atau menyatakan ketidaksetujuan kita dalam rapat dan sebagainya. Tanyakan dirimu jika kamu mau terus menjadi pribadi yang lemah. Seseorang mungkin harus mengatasi kecemasan terkait dengan perubahan, rekonsiliasi berbagai konflik di dalam sistem nilaimu, menyiapkan orang lain untuk perubahan yang mereka lihat dalam perilaku atau kelakuanmu. Jika ada keraguan apakah sikap tegas cocok diterapkan dalam situasi tertentu, bicarakan dengan yang lain, atau simulasikan dalam sebuah role play untuk mengurangi kekhawatiranmu.

Langkah#2 : Cari tahu beberapa cara yang tepat untuk menegaskan sikapmu dalam situasi tertentu.

Ada banyak cara untuk merespon dengan taktis, efektif dan fair. Amati figur idolamu dalam hal bersikap tegas yang benar. Diskusikan masalah dengan seorang teman, orang tua, atasan, konselor atau orang lain yang kamu percaya.  Perhatikan dengan cermat bagaimana orang lain merespon situasi serupa dan beri penilaian apakah sikap mereka tidak tegas, tegas atau agresif.  Sebagian besar pelatih ketegasan merekomendasikan adanya bagian – bagian ini dalam sebuah respon efektif :

  1. Mendeskripsikan dengan jelas kepada orang yang agresif , bagaimana situasi – situasi tertentu  tidak pas atau menyulitkanmu.  Berikan penjelasan yang spesifik mengenai waktu dan kejadian tersebut, jangan membuat tuduhan yang umum seperti : “kamu selalu bersikap memusuhi… kecewa… sibuk.” Bersikaplah  objektif; tanpa membuat orang tersebut menjadi brengsek.  Konsentrasilah pada tingkah lakunya, bukan pada motivasinya.
  2. Mendeskripsikan perasaanmu dengan menggunakan kalimat “Saya….” yang menunjukkan bahwa kamulah yang bertanggung jawab penuh atas semua perasaanmu. Bersikaplah tegas dan kuat, tatap mata mereka, percaya diri, dan jangan menjadi emosional.  Fokuslah pada perasaan – perasaan positif terkait dengan cita – citamu jika kamu bisa, bukan pada kebencianmu akan orang itu. Kadang ada manfaatnya untuk menjelaskan mengapa kamu merasa seperti itu, sehingga pola kalimatmu bisa menjadi seperti ini :  “Saya merasa  ______ karena ______.”
  3. Mendeskripsikan perubahan – perubahan yang telah kamu lakukan. Bersikaplah spesifik mengenai tindakan apa yang harus dihentikan dan apa yang harus dimulai. Pastikan perubahan – perubahan yang diminta masuk akal, pertimbangkan kebutuhan orang lain juga, dan kamu harus memiliki kemauan yang kuat untuk mengubah dirimu. Bisa terjadi, bahwa kamu sudah memikirkan beberapa konsekuensi jika seseorang berubah, atau jika tidak berubah. Konsekuensi tersebut boleh dijelaskan, tanpa bermaksud mengancam.

Langkah#3 : Berlatih memberikan respon yang tegas

Dengan menggunakan beberapa respon yang baru saja kamu kembangkan, simulasikan berbagai  respon tersebut dengan seorang teman  dalam role play. Mulailah dengan situasi – situasi yang sederhana namun nyata terjadi dalam hidup, dan lalu tingkatkan ke situasi yang lebih menantang.

Dalam berbagai role play ini, jika temanmu berperan dengan baik, kamu akan menyadari bahwa kehidupan  nyata membutuhkan lebih dari sekedar respon tegas.  Kamu akan melihat, bagaimanapun tenangnya kamu, ketegasanmu bisa menjadi suatu bentuk penghinaan untuk orang lain.  Karena kamu sudah bermain taktis, orang tersebut mungkin tidak lagi bisa bersikap agresif. Namun yang harus kamu sadari adalah kemungkinan munculnya reaksi  lain yang kuat, seperti murka dan mengata-ngataimu dengan  berbagai julukan, menyerang balik dan mengkritik kamu, mencari balas dendam, memberikan ancaman,  atau bisa juga tiba – tiba berbalik menjadi seorang pemaaf dan pasrah.

Dalam sebagian besar interaksi,  kedua belah pihak akan mengungkapkan perasaan, pendapat dan keinginannya. Kedua belah pihak harus bersikap tegas dan saling mendengarkan dengan empati.  Interaksi  ini menjadi jalinan komunikasi yang baik jika menghasilkan pada kompromi yang memuaskan kedua belah pihak.

Teknik lain yang dapat dicoba ketika konfrontasi berkembang menjadi terlalu sulit adalah “teknik perekam rusak”. Contoh “Saya ingin kamu sampai di rumah selambat – lambatnya pada tengah malam,” “Saya tidak menginginkan produk ini, dan saya mau uang saya kembali,” “Tidak, saya tidak ingin pergi makan, saya ingin mengerjakan PR.” Ulangi pernyataan dengan persis seperti cara orang tersebut mengatakannya  terlepas dari alasan, atau argumen yang dikeluarkan oleh orang tersebut.  Dalam teknik perekam rusak, dengan memberikan pesan berulang kali dengan kalimat yang sama, pada akhirnya orang lain akan menyadari bahwa kamu benar – benar serius dengan apa yang kamu katakan. Namun, berhati – hatilah dengan teknik “perekam rusak”.Jika kamu gunakan teknik ini untuk melindungi dirimu dari eksploitasi, itu adalah hal yang baik. Namun jika teknik ini digunakan untuk membully seseorang, itu adalah sesuatu yang manipulatif dan buruk.

Langkah#4 : Berusahalah menjadi tegas dalam berbagai situasi kehidupan. Mulailah dengan situasi yang mudah untuk membangun kepercayaan diri dalam bersikap tegas. Buat beberapa penyesuaian saat dibutuhkan. Pertajam keterampilan bersikap tegas.

Contoh : minta seorang teman untuk meminjamkanmu sehelai baju, sebuah buku. Minta bantuan seorang asing untuk menunjukkan arah, menukar uang kecil, meminjam bolpen atau pensil. Mintalah manager toko untuk memberikan potongan harga pada barang yang sudah cacat atau kotor,atau meminta demo produk. Mintalah bantuan guru untuk membantumu memahami pelajaran tertentu, membantu menemukan buku panduan, atau membantumu memahami bab – bab tertentu. Berlatihlah berbicara dan berikan pujian untuk teman atau orang asing, telefonlah petugas negara jika kamu menemukan sesuatu yang tidak efisien, pujilah orang lain saat mereka melakukan tugasnya dengan baik, ceritakan berbagai pengalamanmu.

Dasar bersikap tegas adalah keseimbangan, antara kemauan dan kebutuhanmu dengan tetap mempertimbangkan kemauan dan kebutuhan orang lain. Saat kamu bersikap tegas, kamu meminta sesuatu, namun belum tenu kamu mendapatkan kemauanmu.

Dasar perilaku  agresif adalah kemenangan (sendiri). Perilaku agresif  mendorongmu untuk melakukan dan mendapatkan apa yang kamu mau, tanpa memperhitungkan hak, kebutuhan, perasaan atau keinginan orang lain. Saat kamu bersikap agresif, kamu mengambil apapun yang kamu mau (dan biasanya tanpa bertanya atau meminta ijin).

6 Hal untuk Membantumu Bersikap Tegas

#1 : Hargai dirimu dan hak – hakmu

  1. Memahami hak, pemikiran, perasaan , kebutuhan dan keinginan adalah penting untuk setiap orang.
  2. Tapi ingatlah tidak ada satupun  orang yang lebih penting daripada  orang lainnya.
  3. Kenali dan lindungi hak – hakmu.
  4. Berhentilah meminta maaf untuk segala sesuatu

#2 : Cari tahu kebutuhan dan keinginanmu dan minta agar kebutuhanmu dipenuhi

  1. Jangan  menunggu seseorang untuk menyadari kebutuhanmu, atau kamu akan menunggu selamanya
  2. Pahamilah bahwa untuk berprestasi sesuai potensimu, kebutuhanmu perlu dipenuhi
  3. Cari cara untuk memenuhi kebutuhanmu tanpa mengorbankan orang lain

#3 : Sadar dan akuilah bahwa orang lain bertanggung jawab untuk kelakuan mereka sendiri

  1. Kamu hanya dapat mengontrol dirimu sendiri. Jangan membuat kesalahan dengan menerima tanggung jawab atas bagaimana reaksi orang untuk sikap tegasmu (contoh kamu tidak bertanggung jawab atas reaksi marah atau benci mereka karena sikap tegasmu).
  2. Sejauh kamu tidak melanggar hak – hak orang lain, kamu berhak untuk mengatakan atau melakukan kemauanmu.

#4 : Ekspresikan pikiran dan perasaan negatif dengan cara yang sehat dan positif

  1. Kamu boleh marah, tapi tetap harus menghormati orang lain
  2. Silakan mengatakan apa yang ada dalam pikiranmu, namun ingatlah untuk menjaga perasaan orang lain.
  3. Kontrol emosimu
  4. Belalah dirimu sendiri dan hadapi mereka yang menantang kamu atau hak – hakmu

#5 : Terimalah kritik dan pujian  dengan sikap positif

  1. Terimalah pujian dengan rasa syukur
  2. Ijinkan dirimu untuk membuat kesalahan, dan mintalah bantuan
  3. Terimalah masukan dengan positif, nyatakan ketidaksetujuanmu, namun jangan bersikap defensif atau marah.

#6 :  Belajar mengatakan “Tidak” saat kamu ingin mengatakan “Tidak”

  1. Kenali batasanmu  dan  kelebihanmu yang sering disalahgunakan orang
  2. Sadarilah bahwa kamu tidak dapat melakukan segalanya atau menyenangkan setiap orang. Belajarlah menerima kenyataan tersebut.
  3. Lakukan apa yang benar untukmu
  4. Beri saran alternatif untuk solusi yang menguntungkan kedua belah pihak (win-win)

Bersikap tegas artinya memahami garis batas tipis antara pernyataan tegas dan agresi , menyeimbangkan keduanya.  Ini berarti memiliki jati diri yang kuat dan menyadari bahwa kamu berhak mendapatkan apa yang kamu mau. Dan ini artinya bisa berdiri teguh membela dirimu sendiri dalam situasi tersulit sekalipun. Bersikap tegas adalah suatu keterampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan. Dengan membaiknya keterampilanmu bersikap tegas, maka produktivitas dan efisiensi kerja akan membaik.

Lanjut : Pilar ke-5 dari 6 Pilar Penopang Self-Esteem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *