Psikoterapi

6 Pilar Penopang Self-Esteem (Pilar 3)

PIlar 3 : Memupuk Self-Responsibility

Dalam pilar ke-dua (penerimaan diri) , Nathaniel Branden menjelaskan bahwa untuk memiliki self-esteem yang sehat, kamu harus mampu menerima siapa dirimu dan percaya diri akan keputusan dan perilakumu. Selain penerimaan diri, pilar lain untuk membentuk self-esteem adalah pilar ke-3 yaitu keberanian untuk mengambil tanggung jawab atas masa depanmu. Untuk hidup dengan mengambil tanggung jawab atas masa depanmu, kamu harus mampu memperhatikan perilakumu dalam 3 bidang :

  1. Bertindak dengan cara – cara yang membantumu mencapai tujuan – tujuan hidupmu.
  2. Bertanggung jawab atas setiap keputusan, prioritas dan tindakanmu.
  3. Tidak bergantung pada pemikiran yang diberikan oleh keluarga, teman atau lingkup sosial, namun mampu berpikir mandiri dengan mengamati dan memilih nilai – nilai yang akan menuntun hidupmu.

Karena bertanggung jawab atas dirimu sendiri membutuhkan usaha, pemikiran dan berbagai keputusan sulit lainnya, banyak orang yakin bahwa ini adalah tantangan yang tidak mungkin untuk dilakukan. Beberapa orang menyalahkan orang lain atas masalahnya. Ada lagi orang yang berharap bahw seseorang akan datang dan memperbaiki segala sesuatunya.

Self-responsibility adalah sebuah orientasi aktif terhadap kehidupan, bukan orientasi pasif / korban. Kuncinya : Tanyalah dirimu 2 hal ini :

  1. “Apa kemungkinan – kemungkinan tindakan yang dapat saya ambil ?”
  2. “Apa yang akan saya lakukan ?”

Self-responsibility membantu menentukan kepuasan dan keberhasilan di semua bidang dalam hidupmu. Orang yang berhasil dalam bisnis adalah mereka yang tidak membatasi dirinya dengan hanya melakukan tugas – tugas yang dibebankan kepadanya. Mereka terus menerus mencari cara untuk berkontribusi di luar parameter job deskripsi yang diberikan perusahaan. Saat orang berhasil menemukan masalah, mereka menganalisanya dan menciptakan berbagai kemungkinan solusi.

Dalam hubungan interpersonal, mereka yang puas adalah mereka yang tidak sekedar berkata “Aku ingin…” Mereka bertanya  “Apa yang hendak saya lakukan untuk mendapatkan apa / relasi yang saya mau ?” Mereka memberi perhatian pada kualitas dari waktu yang mereka habiskan bersama pasangan, anak dan teman – teman mereka.  Mereka memperhatikan apakah komunikasi yang terjalin jelas, mengakui perasaan mereka, dan peka terhadap perasaan yang lain, menghadapi konflik dan mengatasinya.

Batasan Tanggung Jawab : Mengenal Keterbatasan Diri

Self-responsibility seharusnya tidak dicampur adukkan dengan pandangan “New Age” bahwa kitalah yang membiarkan segala sesuatunya terjadi dalam hidup kita.  Keyakinan yang salah ini dapat  menjadi bencana untuk membangun self-esteem, menggiring kita untuk tidak menyetujui semua hal yang berada di luar pengawasan kita.

Tanggung jawab kehidupan harus dipahami dengan cerdas, kita harus memahami keterbatasan kita. Ada kasus  di mana kita benar – benar tidak berdaya untuk meraih hasil yang kita inginkan. Jadi apa yang harus kita lakukan adalah mengevaluasi aspek dari situasi yang dapat kita kontrol, fokus pada bagian tersebut, dan memasrahkan selebihnya.

Self-responsibility bukan berarti mengambil  tanggung jawab yang tidak perlu atas orang lain.  Masalah anak atau anak buah yang seharusnya ditanggung sendiri namun dipecahkan oleh orang tua atau manager,  adalah suatu bentuk kurangnya rasa tanggung jawab anak / bawahan. Mengurusi masalah – masalah yang tidak seharusnya kamu tanggung, dapat menjadi cara kamu menghindari masalahmu sendiri. Ingatlah bahwa self-responsibility yang benar memampukan kamu mengambil tanggung jawab atas masa depanmu, dan  bukannya membuatmu lari dari masalahmu.

Prinsip self-responsibility melibatkan sebuah ide moral yang penting. Dengan mengambil tanggung jawab atas diri sendiri, kita menghormati orang lain, mengakui bahwa kehadiran orang lain tidak semata – mata untuk memenuhi kebutuhan kita.  Kita tidak berhak untuk memperlakukan orang lain sebagai alat untuk mencapai tujuan kita, atau tidak berterima kasih atas kontribusi mereka, dan kita seharusnya tidak mentolerir perlakuan semacam itu. Saat kita memiliki tujuan yang membutuhkan kerja sama dan partisipasi orang lain,  kewajiban kita adalah menawarkan mereka insentif yang sepadan dengan minat dan kebutuhan mereka. Ini adalah salah satu makna dari self-responsibility.

Berbagai Strategi untuk Mengembangkan / Meningkatkan Self-Responsibility

Sebagian besar dari kita lebih bertanggung jawab hanya dalam beberapa bidang dalam hidup, dan kurang bertanggung jawab dalam bidang lainnya.  Contoh : seseorang mungkin bisa menjadi sangat bertanggung jawab di tempat kerjanya, namun pasif dan reaktif di rumah, menyerahkan tugas membina relasi kepada pasangannya.

Walaupun self-responsibility yang utuh / lengkap mungkin tidak selalu dapat dilakukan (manusia kadang keluar jalur), Nathaniel Branden percaya bahwa kita semua dapat berlaku lebih bertanggung jawab saat kita sadar akan isu self-responsibility dan menanggapinya dengan serius.

Strategi 1 : Dengan menanyakan beberapa pertanyaan ini dalam berbagai situasi : “Jika saya ingin sepenuhnya bertanggung jawab saat ini, apa yang akan saya lakukan ?”  Dalam banyak kasus, kamu akan mengetahui jawabannya. Itu hanyalah mengenai mendengarkan respon dan bertindak sesuai respon tersebut. Jika tanya jawab dengan diri sendiri ini dilakukan beberapa kali dalam sehari, kamu akan membangun suatu kesadaran yang menuntunmu kepada self-responsibility yang lebih baik.

 Strategi 2 : Dengan berlatih menyelesaikan kalimat.   Selama 25 tahun terakhir, Nathaniel Branden telah mengembangkan teknik ini dan mengujinya pada ribuan orang dengan hasil memuaskan. Latihan melengkapi kalimat pada pilar ke-3 ini mirip dengan latihan  pada  Pilar 1 : Living Graciously.

Sebagai latihan, lengkapi penggalan kalimat di bawah ini dengan 6-10 variasi kalimat untuk 2 minggu ke dapan. Satu – satunya peraturan adalah kalimat akhir harus merupakan satu kalimat dengan tata bahasa yang utuh.  Saat mendapatkan ide, tulislah dengan cepat,  jangan berhenti untuk berpikir, dan seperti kata Nathaniel Branden .” Apapun kalimat yang ditulis, semuanya baik, teruskan menulis dan jalani apa yang kamu tulis.”

Coba lengkapi dan praktekkan :

  1. Jika saya menjadi 5% lebih bertanggung jawab pada pekerjaan, saya akan…
  2. Jika saya 5% lebih bertanggung jawab dalam relasi interpersonal saya, saya akan…
  3. Jika saya mengambil tanggung jawab penuh untuk kebahagiaan saya, saya akan…

Sekali lagi, jangan berpikir terlalu keras saat menuliskan jawabanmu. Jangan khawatir jika beberapa jawaban baru muncul hari demi hari. Manfaat latihan ini akan menstimulasi pikiranmu untuk membuat koneksi baru antar sel otak. Dengan cara berpikir yang baru ini, kamu akan semakin bertanggung jawab dalam hidupmu.

Memupuk rasa tanggung jawab pada anak.

Sangat baik untuk membina tanggung jawab mulai dari masa kanak – kanak. Pada prinsipnya, tidak pernah ada kata terlalu dini untuk mulai mendidik anak memahami kontrol, konsekuensi dan orientasi aktif.

Strategi untuk membantu anak memahami kontrol : Limpahkan tugas kepada anak sesuai usianya, saat anak sudah mampu menyelesaikan tugas tersebut.  Walau umumnya pakaian anak usia 5 tahun ditentukan ibu, ibu dapat menanyakan kemauan anak : “Apakah hari ini kamu mau memakai baju yang berwarna biru , atau yang merah ?” Teruslah mencari kesempatan untuk membantu anak merasakan kontrol dari pilihan – pilihan yang ia buat.
Strategi untuk membantu anak memahami konsekuensi : Pastikan bahwa anak – anak menyadari tanggung jawab yang menyertai hak – hak istimewa. Contoh :  pinjamkan mobil keluarga pada anak (jika sudah memiliki SIM), namun pastikan bahwa anak remaja ini mengerti untuk mengembalikan mobil pada waktu yang dijanjikannya. Jika janji ini tidak dipenuhi, maka hak istimewa ini akan dicabut.

Strategi untuk membantu anak memahami  orientasi aktif: Tanggapi minat dan mimpi anak dengan serius, dan lakukan follow-up dengan melontarkan pertanyaan – pertanyaan yang membantu anak meraih mimpinya. Contoh : Saat anak yang menginjak dewasa menceritakan mimpinya untuk menjadi seorang fotografer atau dokter, bantulah ia dengan mendiskusikan berbagai cara menggapai mimpinya (brainstorming).

Lanjut : Pilar Ke-4 dari 6 Pilar Penopang Self-Esteem

quote-No-one-can-make-you-feel-inferior-without-your-consent-eleanor-roosevelt-300x199 6 Pilar Penopang Self-Esteem (Pilar 3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *