Kreativitas

30 Metode untuk Melatih dan Mengembangkan Kreativitas

 

CS-Mind_Map_adalah_salah_satu_alat_bantu_berpikir_kreatif-300x164 30 Metode untuk Melatih dan Mengembangkan Kreativitas
Mind map yang dipopulerkan oleh Tony Buzan adalah salah satu metode untuk melatih berpikir kreatif

Banyak orang menganggap bahwa kreativitas dianggap sebagai suatu kemampuan yang alami dan tak dapat diukur, namun tidak demikian menurut Edward de Bono, E. Paul Torrance,  Sir Ken Robinson dan Tony Buzan. Menurut para pakar seni berpikir kreatif ini, kreativitas adalah suatu keterampilan  yang membutuhkan bimbingan dan instruksi yang terarah.

Sebagian besar metode berpikir kreatif disebarkan  di luar institusi pendidikan formal oleh individu atau lembaga konsultasi yang dilatih untuk memecahkan masalah dengan cara kreatif. Berikut ini adalah beberapa metode untuk membantu menerapkan cara berpikir kreatif di berbagai komunitas seperti : sekolah, tempat kerja dan organisasi sosial.

Bagaimana membantu menerapkan dan mengembangkan kreativitas dalam lingkungan kita?

CS-Mind_Map_adalah_salah_satu_alat_bantu_berpikir_kreatif-300x164 30 Metode untuk Melatih dan Mengembangkan Kreativitas
Seni kreatif seperti gamelan adalah salah satu sarana untuk mengembangkan kreativitas
  1. Menempatkan kreativitas sebagai bagian dari proses pembelajaran. Ciptakan suasana yang memotivasi dan mendukung kreativitas.
  2. Gunakan strategi yang paling efektif untuk melatih kreativitas. E. Paul Torrance menemukan bahwa pendekatan paling efektif untuk melatih kreativitas adalah melalui seni kreatif, program berorientasi media, atau mengandalkan program pelatihan Osborn-Parnes. Program – program yang paling berhasil adalah yang mengkombinasikan fungsi kognitif dan fungsi emosional. Semasa bersekolah di SMA St. Ursula, para siswi bergantian menjadi panitia pelaksana Misa 2 bulanan. Di luar Ordinarium, lagu yang dibawakan adalah lagu pop yang liriknya disiapkan oleh para siswi. Prosesi peresembahan juga menjadi satu bagian penting untuk mengeksplorasi kreativitas para siswi.
  3. Menjadikan kreativitas sebuah keterampilan yang dapat dipelajari. Kreativitas – kreativitas kecil dapat digunakan untuk memecahkan masalah sehari – hari. Jika dibina, kreativitas kecil dapat menghasilkan kreativitas – kreativitas besar (misalnya ide yang mendorong perubahan di masyarakat). Hubungkan dengan emosi. Berbagai penelitian menyarankan untuk menghubungkan instruksi dengan emosi para siswa dalam melatih kreativitas.
  4. Ciptakan berbagai program untuk mengembangkan keterampilan berpikir kreatif. Saat sekolah lain umumnya mengadakan classmeeting setelah selesainya Ulangan Umum, siswi St. Ursula menjalani program – program unik yang membantu mengembangkan kreativitas, seperti : pekan seni atau jurnalisme. Selain itu, berbagai program ekstra kurikuler (di antaranya : membatik, bermain gamelan, bermain teater, band / bermusik, memasak, vocal group, Putri Santa Ursula Marching Brass PSUMB) sangat bermanfaat untuk mengembangkan keterampilan berpikir kreatif melalui seni.
  5. Hubungkan dengan emosi. Berbagai penelitian menyarankan untuk menghubungkan instruksi dengan emosi para siswa dalam melatih kreativitas.
  6. Pertimbangkan untuk memecahkan suatu masalah bersama dengan pola pikir divergen dan konvergen. Berbagai ujian yang dilakukan semasa pendidikan formal bagus untuk mengukur pola pikir konvergen (pola pikir yang melibatkan analisa atau logika dan hanya memiliki 1 respon yang benar). Pola pikir divergen mengajak kita berpikir bagaimana memecahkan masalah dengan berbagai pendekatan  yang membutuhkan asosiasi dan berbagai pemikiran.
  7. Ciptakan lingkungan yang mendukung kreativitas. Pola pikir kreatif memerlukan kerja sama dengan orang lain, sehingga kreativitas hanya bisa berkembang dalam lingkungan yang kondusif.
  8. Amati interaksi yang terjadi dalam diskusi. Catat dan beri perhatian pada berbagai pertanyaan yang timbul, juga pada pertanyaan yang kelihatannya sepele dan tidak ada hubungannya dengan subyek diskusi. Hargai setiap pertanyaan dan ambil waktu untuk mereview semua pertanyaan.
  9. Berpikir positif mengenai kreativitas. Hargai setiap orang yang menawarkan pendekatan berbeda untuk suatu masalah.
  10. Gunakan model inkubasi. E. Paul Torrance mendesain 1 model yang melibatkan 3 tahap (*)
  11. Menggunakan artifak budaya. Penelitian sosial psikologi eksperimental menemukan bahwa artifak dapat memperkuat wawasan dalam memecahkan masalah. Dalam proses mempelajari sesuatu, gunakan sebuah objek yang umum ditemui dalam kehidupan sehari – hari (seperti bola lampu) untuk membantu anggota komunitas membayangkan situasi hidup pada periode tertentu.
  12. Ciptakan kebebasan berekspresi. Sebuah lingkungan di mana ada rasa aman untuk membagikan ide – ide baru. Ciptakan fleksibilitas dan norma – norma yang mendukung kreativitas.
  13. Pahami berbagai standar secara menyeluruh untuk membantu memecahkan suatu masalah secara kreatif.
  14. Kumpulkan semua data dan alat bantu untuk melatih kreativitas. University of Georgia memiliki segudang alat bantu untuk menerapkan kreativitas secara praktis. Universitas ini juga memiliki daftar berbagai program dan organisasi yang dapat membantu proses berpikir kreatif.
  15. Berikan toleransi pada kesalahan. Seperti yang dikatakan oleh Sir Ken Robinson : “Jika kamu tidak pernah salah, kamu tidak akan pernah menemukan sesuatu yang orisinil.”
  16. Alokasikan tempat khusus untuk kreativitas. Desain sebuah lokasi untuk mengeksplorasi ide, misalnya sebuah meja untuk berpikir, panggung drama, meja untuk menggambar, atau sebuah lokasi untuk berdiskusi.
  17. Berikan kesempatan untuk bertanya. Organisasi seperti CCE (Creativity, Culture, Education) menyarankan trainer untuk memberikan kesempatan bertanya. Desain lah pelajaran yang mendorong anggota/siswanya untuk berimajinasi dan mengeksplorasi ide.
  18. Kreativitas membangun kepercayaan diri. Pikirkan berbagai cara dimana anggota komunitas dapat mendesain sebuah proyek. Misalnya saat saya bersekolah di SMA St. Ursula dulu, siswi diminta untuk membuat pameran hasil karyanya dalam sebuah Open House. Para siswi juga diminta untuk bergiliran mengajarkan suatu topik mata pelajaran dengan cara mereka sendiri (dengan membuat simulasi , drama, presentasi yang menarik).
  19. Tanamkan dan pupuk rasa keingintahuan. Minat seseorang adalah awal yang tepat untuk mendorong seseorang berpikir dengan caranya sendiri. Temukan inspirasi dari dunia orang lain. Dukung kreativitas dengan memahami cara berpikir orang lain, untuk menemukan berbagai hal yang memotivasi mereka.
  20. Melatih kreativitas dengan terstruktur sesuai anjuran Contoh pelajaran membaca membutuhkan komunikasi, pemahaman, mendengarkan, menulis dan membaca, sehingga berbagai kemampuan ini sebaiknya dikuasai dulu sebelum pelajaran membaca dimulai.
  21. Amati dan pelajari model kreativitas. Buat studi banding (kunjungan atau tonton video YouTube) bagaimana suatu lingkungan kreatif bekerja. The “Case for Creativity in School” adalah sebuah video yang sangat bagus untuk mengamati bagaimana kreativitas berjalan dalam sebuah kelas.
  22. Pelajari karya berbagai ahli kreativitas. Sir Ken Robinson, Edward de Bono, Tony Buzan adalah beberapa ahli seni berpikir kreatif (berpikir lateral) dan inovatif yang diakui dunia. Buku dan video Sir Ken Robinson di TED talks adalah sumber berharga untuk memahami dan menerapkan kreativitas dalam komunitas.
  23. Mengeksplorasi kebudayaan lain. Budaya adalah alat bantu yang sangat bagus untuk mengilhami cara berpikir kreatif. Dalam bukunya yang berjudul Thinking Hats & Coloured Turbans Kirpal Singh  mendiskusikan  bagaimana peranan konteks budaya dan menciptakan usaha kreatif. Pertimbangkan untuk membuat kolaborasi antar budaya, untuk menciptakan ide – ide unik dan segar.
  24. Cari cara untuk menerapkan dan mengintegrasikan seni, musik dan budaya. Lingkungan diperkaya oleh berbagai kreativitas yang didasarkan budaya.
  25. Gunakan model berpikir kreatif secara kolaboratif untuk memecahkan suatu masalah. Misalnya bentuk beberapa grup untuk mendiskusikan suatu masalah, dan minta mereka untuk membuat berbagai macam pertanyaan.
  26. Desain berbagai pelajaran yang melibatkan multidisiplin ilmu. Misalnya saat mempelajari geometri dapat dibuat dengan “Geometri melalui seni”. Hal ini membantu siswa untuk memahami aplikasi geometri dalam hidup sehari – hari. Guru seni juga dapat dilibatkan untuk membantu memperkuat berbagai konsep ini di kelas.
  27. Kunci melatih kreativitas adalah memanfaatkan berbagai intelegensi. Kreativitas memerlukan kerja berbagai bagian otak. Konsep baru umumnya diciptakan dengan membuat menjembatani berbagai hal yang kelihatannya tidak terkait satu sama lain
  28. Tanamkan pentingnya kreativitas untuk bertahan dan berkembang di masa depan.
  29. Ajarkan keterampilan berpikir kreatif secara eksplisit. Menurut Collard, “Keterampilan berpikir kreatif tidak hanya sekedar mengeluarkan ide – ide bagus, melainkan juga keterampilan bagaimana mewujudkan ide – ide bagus ini. Collard menyarankan untuk melibatkan 5 bidang ini untuk melatih keterampilan berpikir kreatif  :  Imajinasi, Disiplin diri / Mampu memotivasi diri, Tahan banting, Kolaborasi dan Memberikan tanggung jawab pada anggota komunitas untuk menciptakan proyeknya sendiri. Manfaatkan model kreativitas.
  30. Menerapkan Proses kreatif memecahkan masalah dengan  model Osborne-Parnes  Model Osborne-Parness adalah salah satu model tertua dan terluas dalam melatih keterampilan berpikir kreatif. Model ini biasa digunakan dalam dunia pendidikan dan bisnis untuk memancing kreativitas. Setiap langkahnya melibatkan sebuah pola pikir divergen untuk memancing ide sebanyak mungkin, lalu menerapkan pola pikir konvergen untuk mengeksplorasi dan menyaring ide – ide tersebut.

Model Osborne-Parness melihatkan 6 langkah berikut :

    1. Mencari tujuan. Mengindentifikasi tujuan (lingkup luas), keinginan , kesempatan dan tantangan
    2. Mencari fakta.Mengumpulkan data
    3. Mencari masalah Mengklarifikasi masalah
    4. Mencari ide Memancing ide sebanyak mungkin
    5. Mencari solusi Memperkuat dan mengevaluasi ide
    6. Mencari Kesepakatan.Membuat rencana tindakan untuk menerapkan ide –ide tersebut
      1. GPMB 2010 – Putri Santa Ursula Marching Brass

(*) Model Inkubasi E. Paul Torrance 

Tahap #1 : Meningkatkan antusiasme dan antisipasi. Hubungkan situasi kelompok dengan kehidupan sehari – hari anggotanya.

Tahap #2 : Memperdalam ekspektasi. Lakukan brainstorming dan ciptakan berbagai kesempatan untuk memecahkan masalah – masalah baru.

Tahap #3 : Terapkan pola pikir kreatif di mana saja. Cari cara untuk menerapkan pola pikir kreatif di rumah, komunitas, atau tempat kerja.

 

Sumber : Open Colleges Australia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *